Youngliving
Jetorbit Web Hosting

Antara Sawah dan Lampu Neon

Dulu, di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk, aku tumbuh bersama dua sahabat karib: Andi dan Budi. Setiap minggu, kami bertiga berangkat bersama menuju kota kecil terdekat, naik angkot yang berderit-derit, hanya untuk berenang di kolam renang umum yang airnya kadang keruh tapi bagi kami terasa seperti samudra kebebasan. Jaraknya lumayan jauh, hampir satu jam perjalanan, tapi tak pernah terasa berat. Di perjalanan, kami saling lempar cerita, tertawa, dan kadang bertengkar kecil soal siapa yang paling jago gaya kupu-kupu. Yang penting, kami bersama.

Sekolah kami hanya beberapa ratus meter dari rumah. Lapangan bola di belakang sekolah jadi saksi bisu petualangan sore hari kami. Begitu bel pulang berbunyi, sepatu dilepas, tas diletakkan sembarangan, lalu lari ke lapangan. Bola plastik atau bola karet bekas, tak masalah. Kami main sampai matahari condong ke barat, sampai azan magrib menggema lembut dari masjid kecil di ujung kampung. Tak ada yang mau pulang duluan; kalau ada yang mengeluh capek, yang lain langsung menggoda, “Lho, kok lemah banget sih? Masih ada dua gol lagi!”

Liburan sekolah adalah masa keemasan. Pagi-pagi kami sudah ke sawah, membawa ember kecil dan tombak dari bambu untuk mencari belut. Kadang berhasil dapat segenggam, kadang cuma dapat lumpur tebal yang menempel di celana pendek. Siang harinya, kami mengisi polybag dengan tanah hitam subur untuk bibit cabai atau tomat milik orang tua. Tak jarang, kami berhenti di bawah pohon mangga liar, memetik buah yang masih setengah matang, lalu makan sambil mengobrol tentang rencana besok: mau ke sungai atau ke bukit kecil di belakang desa.

Sekarang, aku tinggal di Jogja. Kota ini indah dengan Malioboro-nya yang ramai, angkringan yang hangat, dan kampus-kampus besar. Kolam renang di apartemen atau gym dekat rumah terbuka lebar setiap hari, tapi entah kenapa jarang sekali aku mampir. Dulu di desa, cukup mendengar suara air mengalir di selokan sawah saja, keinginan berenang langsung membuncah. Di sini, meski airnya jernih dan ada chlorine-nya, rasanya hambar tanpa tawa Andi yang keras atau ejekan Budi kalau aku tenggelam karena gaya angsa yang jelek.

Kehidupan kota memang serba ada: supermarket 24 jam, ojek online datang dalam hitungan menit, wifi kencang di mana-mana. Tapi yang hilang adalah kebersamaan yang dulu begitu alami. Di desa, kalau ada tetangga bangun rumah, sore itu juga terdengar teriakan “sambatan!” Orang-orang datang membawa cangkul, ember, atau sekadar tenaga. Ada yang mengaduk semen, ada yang mengangkat batu pondasi, sambil bercanda dan minum teh pahit dari gelas bambu. Di kota, aku bahkan tak tahu nama tetangga sebelah apartemen. Pintu rumah ditutup rapat, suara bel pintu jarang terdengar kecuali kurir paket.

Udara di sini terasa berat. Polusi dari knalpot motor dan mobil membuat langit sering kelabu. Pohon-pohon besar hanya ada di taman kota yang terbatas, tak seperti di desa dulu: sawah hijau membentang, pohon kelapa menjulang, angin membawa aroma tanah basah setelah hujan. Napas terasa lebih lega di sana, pikiran lebih tenang.

Kadang aku melihat anak-anak di kompleks perumahan bermain gadget di teras rumah. Jarang sekali terdengar suara teriak “gobak sodor!” atau “engklek satu-satu!” Permainan tradisional yang dulu jadi darah daging masa kecilku kini seperti cerita lama. Gobak sodor yang mengajarkan strategi dan kerja sama tim, engklek yang melatih keseimbangan dan ketelitian—semua itu perlahan digantikan layar sentuh dan game online. Aku tak menyalahkan mereka; zaman memang berubah. Tapi hatiku sedih melihat generasi baru kehilangan rasa kebersamaan yang dulu begitu kuat di desa.

Mungkin desa memang lebih cocok untuk masa tua. Ketika rambut sudah memutih, langkah mulai pelan, dan tubuh butuh ketenangan. Aku membayangkan suatu hari nanti kembali ke kampung halaman, duduk di beranda rumah kayu, mendengar suara jangkrik malam, sambil mengenang masa kecil bersama Andi dan Budi. Kota memberi kemudahan, tapi desa memberi jiwa. Dan jiwa itu, sepertinya, tak pernah benar-benar bisa digantikan oleh apa pun yang berkilau di perkotaan.

 

Kamu pernah merasakan hal yang sama?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

DomaiNesia